Cara Menanam Tanaman Herbal (TOGA) Agar Berkualitas

By Categories : Bercocok Tanam

Berikut ini adalah langkah-langkah cara menanam tanaman herbal atau TOGA (Tanaman obat keluarga) agar memiliki kualitas prima.

Persiapan Awal dan Cara Pengolahan Tanah

Sebelum melakukan proses penanaman, langkah awal yang harus kita perhatikan dan lakukan yaitu mengolah lahan atau tanah yang akan ditanami. Lalu, bagaimana caranya?

Caranya yaitu, kita harus siapkan sebidang tanah yang akan digunakan untuk bercocok tanam, akan lebih baik jika tanah yang akan ditanami memiliki jenis tanah yang gempur agar kita lebih mudah mengolahnya dan juga tanaman dapat tumbuh dengan subur.

Setelah itu, kita bersihkan terlebih dahulu rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh disekitar tanah, karena jika tidak dibersihkan dapat membuat pertumbuhan tanaman tidak akan maksimal dan bahkan dapat menyebabkan tanaman terkena hama. Cara membersihkannya dapat menggunakan parang atau cangkul, lalu rumput-rumput tersebut dibuang. Selain itu, pertumbuhan gulma ini dapat merugikan kita, karena nutrisi dan vitamin yang diperuntukan bagi tanaman yang kita tanam dapat diserap oleh gulma tersebut dan jika dibiarkan pertumbuhannya akan semakin lebat.

Setelah tanah bebas dari gulma dan sejenisnya, maka langkah selanjutnya yang harus anda lakukan yaitu membongkar tanah pada lahan tanam dan menggempurkannya sampai semua merata. Untuk melakukan pembongkaran tanah ini, anda dapat menggunakan beberapa alat seperti garpu dan cangkul. Caranya yaitu, tancapkan garpu kedalam tanah lalu angkat dan balikan tanah lakukan cara ini hingga selesai. Setelah itu, tanah digempurkan dengan menggunakan cangkul dan lakukan juga sampai merata. Namun perlu anda perhatikan, jenis tanah yang baik yaitu jenis tanah yang tidak kekurangan air, sehingga tanah akan selalu subur dan pertumbuhan tanaman pun akan maksimal. Tetapi jika kondisi tanah kering dan kekurangan sumber air, maka dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang maksimal dan harus melakukan penyiraman secara rutin setiap hari. Maka dari itu, kondisi tanah merupakan penentu dalam keberhasilan bercocok tanam.

Langkah selanjutnya, jika anda akan menanam berbagai jenis tanaman obat (apotek hidup), sebaiknya lahan tanam dibentuk bedengan-bedengan. Hal ini bertujuan agar tanaman dapat teraliri air dengan baik. Cara membuat bedengan yaitu dengan meninggikan tanah yang akan ditanami tanaman, lalu setiap bedengan diberi jarak dengan bedengan lainnya. Untuk membuat pembatas bedengan dapat membuat galian parit atau selokan di setiap pinggir bedengan yang dapat dijadikan untuk aliran air, sehingga dapat memudahkan proses penyiraman nantinya. Manfaat lain dari galian parit atau selokan ini yaitu, untuk menampung air hujan agar tidak menggenangi bedengan.

Tanaman Herbal di Pot

Bagi anda yang ingin menanam berbagai jenis tanaman, khususnya tanaman obat. Maka anda tak perlu khawatir, karena anda dapat menanam berbagai jenis tanaman ini pada pot yang diletakan di rak pekarangan rumah atau anda juga dapat menggunakan pekarangan rumah anda untuk dijadikan sebagai lahan tanam. Selain itu, pekarangan rumah anda akan lebih terlihat rimbun dan asri. Tidak hanya itu, kita harus memiliki pelindung yang dapat melindungi tanaman kita dari panas matahari secara langsung dan terpaan angin. Jika anda menanamnya di lahan terbuka seperti kebun, maka di lahan tersebut harus terdapat beberpa jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai pelindung seperti pohon dadap atau pohon kapuk. Hal ini dikarenakan, jika tanaman terkena paparan panas matahari secara langsung dapat membuat tanaman mudah kering dan layu.

Pembibitan Tanaman Herbal

Setelah anda selesai mempersiapkan dan mengolah lahan, sebaiknya anda segera mempersiapkan bibit tanaman yang akan anda tanam. Namun akan lebih baik jika anda mempersiapkan bibit bersamaan dengan mengolah lahan, sehingga pada saat anda slesai mengolah lahan, maka bibit dapat langsung ditanam sehingga tanaman akan cepat tumbuh dan terlihat hasilnya. Jika tidak pun, anda tetap dapat melakukan pembibitan setelah pengolahan tanah atau lahan selesai.

Jika anda memiliki dana lebih dan ingin lebih praktis untuk pembibitan, sebaiknya anda membeli bibit yang berkualitas di toko pertanian. Tetapi jika anda ingin melakukan pembibitan sendiri, maka anda dapat mencari bibit dari jenis tanaman yang paling baik dari tanaman lainnya. Hal ini dikarenakan, bibit yang baik dapat dihasilkan dari indukan yang baik pula. Tetapi jika anda tidak memiliki pohon yang dapat anda ambil bibitnya, anda dapat membeli buahnya untuk diambil bijinya dan dilakukan pembibitan.

Di dalam pemilihan bibit sendiri, bibit sendiri terbagi menjadi dua jenis yang terdiri dari vegetatif dan generatif. Vegetatif yaitu jenis bibit yang didapat dari hasil perkembangbiakan sendiri seperti pencangkokan, penyetekan, rimpang, tunas, okulasi dan penyambungan. Sedangkan jenis bibit generatif yaitu jenis bibit yang didapat dari hasil alamiah, yaitu seperti pada biji-bijian. Untuk penjelasan lebih jelasnya, anda dapat menyimak informasi mengenai bibit vegetatif dan generatif, diantaranya yaitu :

  1. Proses pembibitan dengan cara perkembangbiakan generative

Adalah jenis bibit yang sering dipilih oleh para petani yang dimana bibit biji ini hanya tinggal dilakukan penyemaian kedalam lubang tanam yang telah disediakan, serta jumlah biji yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan luasa lahan tanam yang ada. Untuk mengurangi jumlah bibit, sebaiknya bibit dilakukan persemaian terlebih dahulu. Setelah bibit yang disemai mulai tumbuh, anda dapat memilih jenis bibit yang baik pertumbuhannya untuk selanjutnya ditanam pada lahan tanam yang telah disediakan. cara penyemaiannya dapat dilakukan dengan mencampurkan tanah dengan pupuk seperti pupuk kandang dan pupuk buatan seperti kapur pertanian, SP-36 atau TSP dan farudan. Semua campuran tersebut memakai aturan pakai sesuai dengan aturan. Setelah semuanya dicampur secara merata, maka dapat langsung dimasukan kedalam polibag sebanyak 90% dari ukuran polibag yang digunakan. Perlu diperhatikan, buat lubang kecil-kecil dibawahnya sebelum polibag diisi dengan campuran tanah dan pupuk agar sewaktu disiram bibit tidak tergenang air.

  1. Proses pembibitan dengan cara perkembangbiakan vegetative

Pada pembahasan sebelumnya telah disinggung mengenai bibit yang diperoleh dari hasil perkembangbiakan vegetative dapat diperoleh dengan cara penyambungan, penyetekan, pentunasan, okulasi dan rimpang. Proses ini bertujuan agar pertumbuhan tanamannya dapat bersifat sama dengan induknya. Selain itu, dari segi keuntungan melakukan tehnik vegetatif ini akan lebih menguntungkan bagi para petani, karena tehnik ini akan lebih cepat dalam proses penanamannya dibandingkan dengan biji.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini merupakan cara perkembangbiakan secara vegetative yang diantaranya yaitu :

  • Tehnik Penyambungan

Tehnik ini dilakukan dengan cara menyambungkan pucuk dahan yang berasal dari tanaman induk pada tanaman lain yang jenisnya sama. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebaiknya pilih jenis tanaman yang memiliki sifat unggul.

  • Tehnik Okulasi

Tehnik okulasi merupakan tehnik yang dapat dilakukan dengan cara memindahkan tunas tumbuhan pada tanaman, pemindahan ini dilakukan pada tanaman yang sejenis dari tanaman yang satu ketanaman yang lain dan tentunya pada tanaman yang sejenis. Tehnik ini bertujuan agar pertumbuhan yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang sama dengan induknya.

  • Tehnik Penyetekan

Tehnik penyetekan ini merupakan tehnik perkembangbiakan yang paling mudah untuk dilakukan, caranya hanya tinggal memotong batang tanaman induknya lalu potongan batang tersebut ditanamkan dengan posisi batang yang tua berada dibawah.

  • Tehnik Rimpang

Tehnik ini merupakan tehnik perkembangbiakan yang dilakukan dengan cara memisahkan atau memotong tunas pada indukan, lalu potongan tunas tersebut ditanam pada persemaian (umumnya persemaian dilakukan pada media jerami).

  • Tehnik Tunas

Tehnik ini adalah tehnik yang penanamannya menggunakan tunas-tunas tanaman (biasanya dapat diperoleh pada tanaman berumpun). Dari satu tunas yang diambil dari induknya dapat menghasilkan serumpun tanaman baru sejenis dengan induknya dan setelah tumbuh besar, maka tumbuhan itupun akan menghasilkan tunas-tunas baru yang sejenis dan dapat dikembangbiakan kembali.

Tehnik Penanaman Tanaman Herbal

Setelah selesai melakukan pengolahan lahan tanam dan pembibitan, maka penanaman dapat dilakukan. Proses penanaman ini memang terbilang mudah, tetapi jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman dapat berakibat mengalami kegagalan. Oleh sebab itu, sebelum melakukan tehnik penanaman sebaiknya anda pelajari dulu tehnik penanaman yang baim dan benar agar hasil tanam yang anda lakukan tidak sia-sia.

Sponsored links

Kebun tanaman obat

Image sorce: http://www.infopublik.id/album/49/balai-besar-penelitian-dan-pengembangan-tanaman-obat-dan-obat-tradisional-tawangmangu-jawa-tengah/

Untuk menambah pengetahuan anda mengenai tehnik penanaman, anda dapat menyimak baik-baik penjelasan berikut ini.

  1. Sebelum melakukan proses penanaman, sebaiknya anda memilih jenis bibit yang berkualitas baik dan sehat sehingga pertumbuhannya pun akan maksimal.
  2. Untuk terhindar dari gangguan hama dan penyakit, sebaiknya bibit yang akan ditanam dicelupkan terlebih dahulu kedalam cairan Agrimisin.
  3. Setelah dilakukan pencelupan bibit pada cairan yang telah disiapkan, maka langkah selanjutnya yaitu memadatkan tanah yang ada pada polibag lalu kemudian dibalik. Setelah itu, tarik polibag secara perlahan agar tanah dan akarnya tidak terpisah.
  4. Kemudian, tanam bibit yang telah disiapkan dengan menanamnya pada lubang tanam yang telah disiapkan dan tutup dengan tanah halus Lalu, tanah disekitar pangkal dipadatkan.
  5. Jika jenis bibit yang anda gunakan terdiri dari biji-bijian, sebaiknya dilakukan penyemaian terlebih dahulu pada wadah yang tersedia campuran berupa tanah, pasir dan serbuk kayu dengan perbandingan 1:1:1.
  6. Setelah itu, anda dapat mengatur letaknya agar tidak terlalu berdekatan. Kemudian, tutup bagian atasnya dengan menggunakan tisu basah dan simpan pada tempat yang aman.
  7. Untuk menjaga kelembabannya tetap baik, anda harus menyiramnya secara rutin dan teratur setiap hari.
  8. Setelah bibit mulai mengeluarkan tunas dan biasanya aan mulai tumbuh sekitar umur 1 minggu. Kemudian, bibit sudah siap untuk dipindahkan pada polibag yang telah disiapkan dengan diisi campuran tanah, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:2:1. Selanjutnya simpan bibit ditempat yang aman.
  9. Setelah usia bibit sekitar 2-3 minggu, maka bibit sudh dapat dipindahkan pada lahan tanam yang telah disiapakan. Cara ini memang sedikit rumit dan memerlukan proses panjang dalam proses penanaman, tetapi hal ini memang harus dlakukan agar pertumbuhan tanaman dapat maksimal. Cara penanaman biji secara langsung pun memang dapat dilakukan, tetapi cara tersebut harapan bibit dapat tumbuh dengan baik sangat tipis. Maka dari itu, proses penyemaian dan polibag ini harus tetap dilakukan agar pertumbuhan dapat maksimal seperti yyang diharapkan.
  10. Lakukan proses penanaman pada waktu yang tepat, sebaiknya proses penanaman ini dilakukan pada saat tiba awal musim penghujan. Waktu yang tepat untuk melakukan proses penanaman ini dapat dilakukan pada pagi atau sore hari, karena pada saat itulah kondisi cuaca sangat mendukung dalam proses pertumbuhan tanaman. Jika musim hujan belum juga tiba, anda tetap dapat melakukan proses penanaman asalkan anda selalu menjaga kelembaban tanah dengan rutin menyiram tanaman yang anda tanam minimal 2 kali sehari.

Proses Pemeliharaan Tanaman

Setelah anda selesai melakukan proses penanaman, bukan berarti tugas anda sudah selesai dan tinggal menunggu hasilnya. Langkah anda selanjutnya yaitu melakukan pemeliharaan tanaman-tanaman yang anda tanam agar kelangsungan hidupnya tetap terjaga dengan baik dan memiliki pertumbuhan yang sangat cepat.

Berikut ini merupakan cara pemeliharaam atau perawatan tanaman yang dapat dilakukan, diantaranya yaitu :

  1. Proses Penyiraman

Setiap mahluk hidup sangaat membutuhkan air untuk menjaga keberlangsungan hidupnya, termasuk juga tanaman dan tumbuhan. Oleh karena itu, proses penyiraman sangatlaah penting untuk anda lakukan secara rutin setiap hari agar unsur hara di dalam tanah dapat keluar dan diserap oleh tanaman dengan baik. Jika lahan yang dijadikan tempat anda menanam berbagai tanaman kecil, proses penyiraman dapat dlakukan dengan menggunakan gembor atau selang. Sedangkn jika tanah atau lahan yang dipakai untuk bercocok tanam sangat luas, anda dapat melakukan proses penyiraman dengan menggunakan alat yang namanya Sprinkle. Hal ini dikarenakan, jika anda menggunakan alat penyiraman dengan selam atau gembor tentunya dapat menyita waktu yang lumayan lama. Proses penyiraman jangan dilakukan dengan berlebihan, terlebih jika kondisi cuaca sedang musim penghujan. Hal ini dikarenakan, jika tanaman dilakukan penyiraman secara berlebihan dapat menyebabkan terjadi pembusukan pada akar tanaman sehingga mengakibatkan tanaman mati. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemahan dalam melakukan perawatan tanaman ini.

  1. Proses Pemupukan

Untuk mempercepat pertumbuhan dan menyuburkan tanaman tidak hanya cukup dengan rutin menyiramnya dengan air, tetapi tanaman perlu dilakukan pemupukan yang cukup. Pada umumnya pemupukan dilakukan dengan memberikan pupuk kandangan dan pupuk buatan atau dikenal juga dengan sebutan pupuk organik atau pupuk anorganik. Biasanya pemupukan yang dilakukan pada tanaman obat dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap pertama pemupukan dilakukan dengan pemberian jenis pupuk organic dan jenis pupuk prostat, pupuk tersebut diberikan pada saat sedang dilakukan pengolahan lahan tanah yang akan digunakan untuk menanam secara merata seperti pada tiap lubang tanam, bedengan ataupun pada alur tanam. Pada tahap kedua ini, pemupukan dilakukan pada saat sebelum dilakukan penanaman atau dapat juga dilakukan bersamaan dengan proses penanaman bibit. Jenis pupuk yang diberikan yaitu jenis pupuk anorganik sepeti pupuk urea, SP-36 atau TSP dan KCI. Pemberian ketiga jenis pupuk anorganik tersebut yaitu pada saat setelah bibit ditanam, pemberian dilakukan pada waktu pagi hari sebelum matahari naik terlalu tinggi atau sekitar pukul 09.00 atau dapat dilakukan sore hari sekitar pukul 16.00 sampai matahari terbenam. Walaupun  dari ketiga jenis pupuk anorganik tersebut memang sangat praktis untuk dilakukan dan dapat secara cepat diserap tanaman. Tetapi akan lebih baik jika pemupukan menggunakan jenis pupuk organic seperti pupuk kandang atau pupuk kompos. Hal ini dikarenakan, kandungan unsur hara yang dimiliki pupuk organik lebih tinggi dan lebih lengkap ketimbang dengan kandungan unsur hara yang terdapat pada jenis pupuk anorganik.  Kandungan yang terdapat pada pupuk anorganik lebih banyak kandungan zat kimianya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan tanaman itu sendiri. Pemberian pupuk organik sebaiknya dilakukan pada saat sebelum masa tanam dan dilanjutkan pada saat tanaman telah tumbuh dewasa yaitu pada saat tanaman berumur 2 – 3 bulan, sedangkan dosis pupuk kandang yang diberikan sekitar 0.5 – 1 kg/m².

  1. Proses Pemberantasan Hama

Pertumbuhan gulma memang sering terjadi pada lahan disekitar tanaman, gula ini harus segera dibasmi agar tidak mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Untuk melakukan pambasmian gulma ini, anda dapat membabatnya dengan menggunakan parang, arit ataupun dengan menggunakan cangkul sampai benar-benar tak tersisa. Jika anda merasa kesulitan dalam memberantas pertumbuhan gulma ini, sebaiknya anda melakukan pengendalian gulma pada masa kritis tanaman yang sekitar sepertiga atau setengah dari usia tanaman itu sendiri. Setelah masa kritis pada tanaman lewat, maka pengaruh pertumbuhan gulma tidak lagi dapat merugikan tanaman. Maka dari itu, selalu memperhatikan pertumbuhan gula dari awal penanaman hingga masa kritis tanaman lewat seepektif dan seefisien mungkin.

  1. Membasmi Hama dan Penyakit

Masala yang kerap muncul pada setiap tanaman tidak hanya pertumbuhan gulma, tetapi juga kita harus memperhatikan akan keberadaan hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman secara tiba-tiba. Untuk itu, sebaiknya kita melakukan pencegahan sedini mungkin agar tanaman dapat terhindar dari serangan hama dan penyakit. tetapi jika hama atau penyakt sudah terlanjur menyerang tanaman, maka anda harus segera melakukan tindakan dengan menyemprotkan larutan pembasmi hama seperti insektisida, pestisida atau fungisida yang dapat memasmi hama atau berbagai jenis penyakit yang sering menyeran tanaman. Tetapi akan lebih baik jika cara dalam membasmi hama dan penyakit dilakukan dengan cara yang alami, sehingga kesegaran dan kualitas tanaman akan tetap terjaga serta bebas dari kandungan bahan kimia. Hal ini dikarenakan, hasil tanaman yang kita konsumsi juga dapat mempengaruhi kesehatan jika bahan kimia tersebut masih menempel pada hasil tanaman yang menggunakan bahan obat kimia dalam memberantas hama dan penyakit tersebut.

Masa Panen dan Cara Pengolahan Hasil Panen

Seteelah melakukan cara penanaman dan pemeliaraan, maka tiba saatnya untuk mendapatkan apa yang kita harapkan yaitu masa panen. Waktun masa panen pada tanaman oba tidak hanya dapat ditentukan pada usia tanamannya saja, tetapi juga dapat ditentukan pada pemanfaatannya. Hal ini dikarenakan, pemanfaatan pada tanaman herbal atau tanaman obat hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan sehingga masa panen pun dapat ditentukan sesuai dengan jenis tanaman itu sendiri. Seperti halnya jenis tanaman yang bibit tanamannya dikembangbiakan dengan cara generatif dan vegetatif, maka dapat dipastikan jika masa panennya pun akan berbeda. Maka dari itu, jenis bibit yang dikembangbiakan dengan cara vegetatif akan lebih cepat masa pertumbuhannya dibandingkan dengan jenis bibit yang dikembangbiakan dengan cara generatif.

Sedangkan masa panen pada umumnya sering dilakukan pada saat musim kemarau, ini dikarenakan pada musim kemarau hasil panen dapat dikeringkan dengan mudah dengan bantuan panas matahari yang terik. Proses pemanenan yang dilakukan pun dapat berbeda-beda, tergantung dari segi usia, jenis dan bagian tanaman mana yang akan dipanen. Jika yang dipanen pada bagian daunnya, maka proses pemanenan dapat dilakukan dengan cara memilih jenis daun yang sudah tua dengan ciri-ciri warna daunnya yang berwarna lebih tua dari warna daun yang lainnya.

Sedangkan jika hasil panen yang akan dilakukan pada bagian bunga, maka proses pemanenan dapat dilakukan pada saat bunga tanaman sedang mekar-mekarnya. Jika pemanenan pada bagian buahnya, maka proses yang harus dilakukan yaitu dengan memetik buah yang warnanya telah mengalami perubahan menjadi lebih masak atau matang. perubahan warna buah yang telah matang bisanya dapat terlihat jika asalnya buah berwarna hijau maka perubahannya akan menjadi hijau kekuning-kuningan, sedangkan jika warna buahnya awalnya kuning kemerahan maka pada saat matang buahnya akan berwarna merah sempurna. Untuk biji, proses pemanenan dapat dilakukan dengan cara mengambil buah yang telah matang sempurna.

Proses pemanenan tanaman obat tidak hanya dapat dilakukan pada bagian tanaman yang terlihat saja, tetapi juga pada bagian tanaman yang tidak terlihat seperti akar tanamannya. Proses pemanenan pada bagian akar biasanya diambil pada bagian pangkal atau pada bagian tengah akar. Jika jenis tanaman rimpang yang dikembangbiakan dengan cara vegetatif biasanya dilakukan pada saat seluruh bagian tanaman mulai mengering. Sedangkan untuk bagian batangnya dapat dilakukan pemanenan setelah warna batang tanaman mengalami perubahan dari asalnya warna hijau menjadi kecokelatan.

Setelah proses panen selesai dilakukan, pekerjaan anda tidak hanya sampai disitu. Tetapi masih ada pekerjaan yang harus anda lakukan yaitu dengan melakukan penyimpanan dan pengolahan hasil panen. Bagi hasil penan yang tidak dapat langsung dimanfaatkan atau untuk dijual, maka harus dilakukan  pemeliharaan yang tepat agar hasil panen tidak mudah busuk. Untuk itu, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai cara pengolahan hasil panen, diantaranya yaitu :

  • Sortasi

Sortasi merupakan proses penyortiran hasil panen yang layak pakai dan yang tidak layak pakai, sehingga jika akan dijual hasil panen akan memiliki harga jual yang sangat tinggi. Seperti misalnya pada bagian akar tanaman yang busuk, maka dilakukan pemotongan bagian yang busuknya lalu dibuang. Selain itu, jika pada bagian daun ada yang kotor atau rusak, maka akan dilakukan pembersihan dan daun yang rusak akan dibuang. Sengan begitu, maka hasil panen akan lebih bersih dan dapat terbesa dari segala hal yang dapat merugikan.

  • Pencucian

Pada bagian hasil panen yang terdapat kotoran seperti tanah, pasir dan debu harus segera dilakukan pencucian dengan menggunakan air bersih. Pencucian dengan menggunakan air mengalir tidak hanya dapat membersihkan kotoran, tetapi juga dapat menghilangkan zat racun atau hama yang menempel pada hasil panen. Pencucian pada air mengalir ini juga dapat mencegah pencemaran bahan kimia pada hasil panen yang lainnya, sehingga hal ini sangat penting untuk dilakukan. Jika terdapat kotoran yang susah untuk dibersihkan, maka dapat menggunakan sikat yang berbulu lunak dalam membersihkan kotoran yang membandel (untuk jenis tanaman rimpang dan jenis temu-temua, maka harus dilakukan secara hati-hati). Setelah semuanya bersih, tiriskan pada wadah yang jarang atau saringan yang tujuannya agar sisa air dapat menetes keluar.

  • Pemotongan

Setelah semua hasil tanaman dibersihkan, maka proses selanjutnya yaitu proses pemotongan. Proses ini dilakuka bertujuan agar hasil panen mudah untuk dikeringkan dan agar cepat kering. proses pemotongan ini dapat dilakukan dengan menyerong atau membujur, tergantung dari jenis tanaman yang akan dipotong. Bagian tanaman yang akan dilakukan pemotongan harus sudah benar-benar kering dari proses penirisan dan proses pemotongannya pun tidak boleh asal-asalan karena harus terukur. Ukuran pemotongan usahakan memiliki ketebalan sekitar 7 – 8 mm, karena jika pemotongan terlalu tipis maka kandungan khasiat yang terdapat pada tanaman tersebut akan terbuang akibat penguapan yang terjadai pada saat penjemuran dilakukan. Sebaliknya jika ukuran ketebalan terlalu tebal, maka proses pengeringan akan sangat lama.

  • Pengeringan

Pada tahan pengeringan, sebaiknya anda memastikan terlebih dahulu jika bahan-bahan tanaman yang telah ditiriskan sudah bersih dan hanyak mengandung air sekitar 10% saja. Dengan begitu, bahan tanaman tersebut akan cepat kering, sehingga tidak akan mudah rusak dan busuk jika disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada saat penjemuran, bahan yang dijemur jangan sampai terlalu banyak atau terlalu menumpuk, karena hal ini dapat mempengaruhi pengeringan sehingga pengeringan tidak akan merata. Selain itu, pada saat penjemuran harus sering dibolak-balik agar pengeringan data merata secara sempurna dan tidak akan terjadi fermentasi yang menyebabkan terjadinya pembusukan. Faktor lainnya yang harus betul-betul diperhatikan yaitu dari segi temperature, kelembaban udara, faktor cuaca, waktu pengeringan dan juga luas lahan yang digunakan. Semua faktor tersebut harus diperhatikan dengan baik agar hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan. Setiap tanaman memiliki perbedaan dalam proses pengeringan ini, ada yang menggunakan metode pengeringan dengan sinar matahari, pengeringan dengan angin, pengeringan dengan pengering buatan seperti oven atau sejenisnya dan juga dapat dilakukan dengan metode pemeraman yang biasanya dilakukan pada saat setelah panen. Sesungguhnya proses pengeringan yang menggunakan pengering buatan dapat menghasilkan kualitas yang lebih baik dibanding dengan pengeringan secara alami, karena bahan-bahan akan terbebas dari kontaminasi terhadaap debu, lalat, serangga dan sejenisnya. Selain itu, proses pengeringan akan lebih cepat dan merata.

  • Pengemasan

Proses pengemasan harus dilakukan dengan menggunakan wadah atau tempat lain yang harus diperhatikan akan kebersihan dan kehigienisannya, sehingga bahan yang telah kering akan terhindar dari kotaminasi yang dapat menurunkan kualitas dari khasiat bahan tanaman obat tersebut. Selain itu, bahan yang akan digunakan sebagai kemasan sebaiknya menggunakan bahan yang kuat dan juga aman, mudah untuk digunakan dan juga memiliki tampilan yang menarik. Untuk bahan yang masih segar, sebaiknya disimpan di dalam karung goni atau peti kayu. Sedangkan bahan yang telah kering, sebaiknya dimasukan kedalam plastic atau wadah yang kedap udara sehingga dapat bertahan lebih lama.

  • Penyimpanan

Proses ini merupakan proses terakhir yang dapat anda lakukan. Proses penyimpanan ini bertujuan agar produk yang dihasilkan akan lebih tahan lama dan terjaga kualitasnya. Proses penyimpanan sendiri ndapat dilakukan perpanjangan dengan perlakukan pasca panen, kesesuaian tempat dan pengaturan temperatur yang tepat serta proses kimiawi yang sesuai dengan takaran. Selain itu, faktor kebersihan dan kehigienisan juga dapat mempengaruhi kualitas dan keberhasilan dalam sebuah produk. Hal ini dikarenakan, berbagai jenis produk yang diolah dengan bersih dan kehigienisan yang terjaga dapat mencegah kemungkinan terjadinya produk tersebut terjangkit bakteri yang dapat menyebarkan berbagai jenis penyakit. serta kebersihan tempat penyimpanan produk pun harus sangat diperhatikan kebersihan dan kehigienisannya dengan baik.

ITulah uraian cara menanam tanaman herbal. semoga bermanfaat untuk Anda yang ingin bercocok tanam tanaman herbal.

Artikel Terkait Cara Menanam Tanaman Herbal (TOGA) Agar Berkualitas

Sponsored Link
loading...
Tinggalkan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *